Bagi sebagian orang yang sering mengisi waktu luang dengan mendengarkan musik, atau membaca karya sastra terutama puisi, adalah hal yang menyenangkan dari pada menghabiskan waktu untuk bermain Social Media. Tetapi apakah bisa membaca puisi sambil mendengarkan musik yang tentu saja musiknya itu bertema puitik agar menambah syahdunya waktu baca puisi. Bukan musik bertema Rock atau Metal tentunya supaya tidak pecah kepala dan meruka mood baca.
Musik dan puisi pada era sekarang juga tidak dapat dipisahkan. Banyak penyanyi atau band-band yang menggunakan bahasa kiasan dalam penulisan liriknya. Ingin tahu siapa saja musisi era sekarang yang dalam albumnya sebagian besar liriknya bisa dikatakan puisi? Karena terdapat syarat-syarat penulisan puisi di dalamnya seperti majas metafora.
1. Payung Teduh
Siapa yang tidak mengenal lagu Akad? Ya, nama mereka semakin meroket setelah lagu Akad hadir mewarnai pendengar musik tanah air. Bahkan ada yang bilang Payung Teduh adalah Akad, dan Akad adalah Payung Teduh. Saking melekatnya. Hingga tulisan ini dilansir, viewer lagu Akad di chanel Youtube Payung Teduh telah menginjak angka 61 juta. Band yang sebenarnya sudah dibentuk pada tahun 2007 ini sebenarnya sudah mengeluarkan empat album dalam rentang waktu satu dekade ini.
Siapa yang tidak mengenal lagu Akad? Ya, nama mereka semakin meroket setelah lagu Akad hadir mewarnai pendengar musik tanah air. Bahkan ada yang bilang Payung Teduh adalah Akad, dan Akad adalah Payung Teduh. Saking melekatnya. Hingga tulisan ini dilansir, viewer lagu Akad di chanel Youtube Payung Teduh telah menginjak angka 61 juta. Band yang sebenarnya sudah dibentuk pada tahun 2007 ini sebenarnya sudah mengeluarkan empat album dalam rentang waktu satu dekade ini.
Namun setelah publik mengetahui lagu Akad, publik menilai Payung Teduh adalah band baru. Dan celakanya setelah mereka baru mengenalnya, band itu terpaksa harus bubar pada Desember 2017. Padahal karya-karya mereka di tiga album sebelumnya juga sangat bagus. Misalnya saja pada lagu-lagu, Resah, Angin Pujaan Hujan, Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan.
Lirik-lirik lagu tersebut mewakili sebuah karya puisi, dipadu dengan antara musik folk, keroncong, serta jazz. Tampaknya Payung Teduh masih cukup nyaman digunakan lama untuk berteduh, meskipun hujan telah reda
2. Tulus
Lagu-lagu Tulus mungkin intepretasi dari sang penyanyi itu sendiri. Karyanya sangat puitis. Mewakili cara bicara Tulus yang juga puitis meski hanya sekedar ngobrol kecil-kecilan, ia terlihat sangat memperhatikan dan menyiapkan kata apa yang akan digunakan.
Lagu-lagu Tulus mungkin intepretasi dari sang penyanyi itu sendiri. Karyanya sangat puitis. Mewakili cara bicara Tulus yang juga puitis meski hanya sekedar ngobrol kecil-kecilan, ia terlihat sangat memperhatikan dan menyiapkan kata apa yang akan digunakan.
Ia mengklaim bahwa dirinya Gajah, dan dalam cinta Tulus meminta Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Pehatikan juga lirik lagu Sepatu, Tuan Nona Kesepian, Monokrom, Teman Hidup, Tukar Jiwa. Lirik-lirik lagu tersebut juga mewakili sebuah karya puisi yang metafor.
3. Barasuara
Barasuara hadir dengan musik keras akan tetapi punya lirik yang sarat makna serta kaya bahasa. Sebagian besar lirik lagunya di tulis oleh Iga Massardi, sang vokalis sekaligus gitaris, yang adalah putra dari penyair kawakan Yudhistira ANM Massardi. Darah seni muncul dari ayahnya. Oleh sebab itu dalam penulisan liriknya, Iga Massardi sangat berpengaruh besar di Barasuara.
Barasuara hadir dengan musik keras akan tetapi punya lirik yang sarat makna serta kaya bahasa. Sebagian besar lirik lagunya di tulis oleh Iga Massardi, sang vokalis sekaligus gitaris, yang adalah putra dari penyair kawakan Yudhistira ANM Massardi. Darah seni muncul dari ayahnya. Oleh sebab itu dalam penulisan liriknya, Iga Massardi sangat berpengaruh besar di Barasuara.
Mungkin Barasuara adalah alternatif lain cara menikmati musikalisasi puisi yang cenderung didominasi musik-musik akustik. Lihat saja pada lagu-lagu mereka, Sendu Melagu, Tarintih, Menunggang Badai, Bahas Bahasa, Api dan Lentera, Mengunci Ingatan, Hagia. Apalagi jika menyaksikan mereka secara langsung dalam sebuah Gigi
4. Fourtwnty
Fourtwnty percaya bahwa ketika zona nyaman bisa kita atur secara dinamis makan akan banyak pengalaman baru yang kita dapatkan. Suatu pengetahuan yang mungkin tidak kita dapatkan kecuali kita keluar dari zona nyaman kita masing masing.
Rasakan suasana khas mereka dalam memberikan kenyamanan melalui musiknya. Tidak hanya untuk memanjakan panca indera, tetapi juga untuk memuaskan jiwa. Dengan penggabungan antara seni visual dan musik, Lagu "Zona Nyaman" menjadi lagu pembuka untuk mini-album kedua mereka
5.Banda Neira
Ketika mendengar kata Banda Neira, mungkin sebagian besar berpikir bahwa ia adalah sebuah pulau yang indah di daerah Maluku. Tapi kita sedang membicarakan Banda Neira yang bukan pulau. Kita sedang membicarakan band yang telah bubar pada akhir 2016 lalu ini.
Ketika mendengar kata Banda Neira, mungkin sebagian besar berpikir bahwa ia adalah sebuah pulau yang indah di daerah Maluku. Tapi kita sedang membicarakan Banda Neira yang bukan pulau. Kita sedang membicarakan band yang telah bubar pada akhir 2016 lalu ini.
Mereka sering memainkan musikalisasi puisi karya-karya penyair Subagio Sastrowardoyo, Chairil Anwar. Selama berkarya, mereka telah mengeluarkan dua album, yakni Di Paruh Waktupada tahun 2013 dan Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti di 2016.
Mereka makin dikenal ketika lagu Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti mewarnai Youtube. Tetapi lirik-lirik lagu lainnya seperti Matahari Pagi, Pangeran Kecil, Sebagai Kawan, Sampai Jadi Debu, Diatas Kapal Kertas. Musik dan lirik adalah karya dua personilnya, Ananda Badudu dan Rara Sekar.
Musisi-musisi di atas membuktikan bahwa kita memiliki seniman yang punya karya sungguh luar biasa. Mereka begitu kreatif melagukan setiap kata yang dikolaborasikan bersama nada-nada sehingga dapat kita dengarkan dan menenangkan. Dari beberapa musisi tersebut, siapa yang paling sering menemanimu saat sendu?

